Selasa, 14 April 2009

amink f 2


Informasi Flu Burung

Flu burung adalah penyakit yang perlu kita perhatikan secara serius. Dalam waktu 4 bulan ini telah terjadi peristiwa pertama yang mematikan di Bali (sebagaimana dikonfirmasi oleh WHO). Sebagai suatu institusi pendidikan, kami telah mengembangkan suatu rencana penanganan keadaan darurat jika terjadi wabah di Bali. Jika terjadi wabah yang serius, yang mana akan terjadi dengan sangat cepat, murid-murid akan tidak diperkenankan untuk bersekolah walaupun mereka masih ada di Bali.

Silakan melihat informasi berikut ini yang disadur dari klinik BIMC di Bali, juga link website dengan informasi terkini dan daftar tentang gejala flu burung yang berguna untuk mengenali KEMUNGKINAN gejala flu burung. Mohon diingat bahwa daftar ini dibuat untuk memberikan petunjuk dan bukan dimaksudkan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Daftar ini disadur dari sumber dalam bidang kesehatan yang terpercaya di Australia.

Link website berikut ini dari FCO (Foreign and Commonwealth Office) sangat berguna dan menyeluruh :

  • Serangan penyakit flu burung di Indonesia telah mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban jiwa manusia. Silakan lihat bagian Kesehatan (Flu Burung) dari penjelasan ini dan juga silakan baca FCO’s Avian and Pandemic Influenza Factsheet untuk penjelasan lebih lanjut.

Katharine (Katie) Jones,
Direktur

Sekolah Dyatmika

19 Oktober 2007


Apa Yang Perlu Anda Ketahui

Disadur dari Rumah Sakit BIMC

Flu Burung

1. Apakah Flu Burung itu?

Influenza A (H5N1) adalah bagian dari jenis virus influenza tipe A. Burung-burung liar adalah tempat tinggal alami dari virus ini, maka dinamakan flu burung atau “avian influenza”. Virus ini beredar diantara burung-burung di seluruh dunia. Virus ini sangat mudah berjangkit dan dapat menjadi sangat mematikan bagi mereka, terutama pada unggas jinak misalnya ayam.

Virus ini disebarkan oleh unggas liar, karena itulah dinamakan flu avian atau flu burung. Virus tersebut menyebar pada unggas hampir diseluruh dunia, sangat menular terhadap sesama unggas dan mematikan, terutama jenis unggas seperti ayam.

2. Siapa yang terinfeksi?

Virus ini tidak menulari manusia pada khususnya. Namun pada tahun 1997, kejadian pertama penularan langsung virus influenza A (H5N1) dari burung ke manusia telah dibuktikan saat terjadi serangan penyakit flu burung diantara unggas di Hong Kong; virus tersebut telah menyebabkan sakit pernafasan yang parah pada 18 orang, 6 diantaranya meninggal. Sejak saat itu, terdapat kejadian penularan H5N1 pada manusia. Namun sejauh ini virus H5N1 tidak bisa menular dari manusia ke manusia. Petugas-petugas kesehatan terus memantau keadaan ini secara teliti untuk mendapatkan petunjuk adanya penularan H5N1 antar manusia. Sampai dengan tanggal 17 Oktober 2007, Indonesia telah melaporkan 109 kasus flu burung H5N1 pada manusia. 88 diantaranya mematikan. 3 kasus mematikan dilaporkan telah terjadi di Bali sejak bulan Agustus 2007.

3. Bagaimana penyebarannya?

Burung-burung yang terinfeksi menyebarkan virusnya di air liur, cairan saluran pernafasan, dan kotorannya. Virus flu burung menyebar diantara burung-burung yang rentan saat mereka terkena kotoran yang telah terkontaminasi. Diyakini bahwa sebagian besar kasus infeksi H5N1 pada manusia disebabkan oleh kontak dengan unggas yang telah terinfeksi atau lingkungan yang telah terkontaminasi.

4. Apakah ada obat untuk pencegahan dan pengobatan?

Ya. Tamiflu yang mengandung oseltamivir adalah suatu cara pengobatan antiviral, yang terbukti dapat menekan kemampuan virus untuk menyebar dari sel yang terinfeksi ke sel yang sehat. Sampai dengan 7 Oktober 2005, Indonesia telah mendapatkan 60.000 tablet Tamiflu. Saat ini antiviral tersebut hanya bisa didapatkan di 44 rumah sakit penerima Tamiflu. Di Bali bisa didapatkan di Rumah Sakit Sanglah.

4. Siapa yang harus meminum obat?

Petunjuk pengelolaan flu burung saat ini menyarankan bahwa oseltamivir dianjurkan bagi orang dengan:

  • Demam tinggi (>38°C)
  • Batuk
  • Kesulitan bernafas
  • Memiliki latar belakang kemungkinan terkena

yang mungkin akan membuat orang tersebut beresiko menjadi terinfeksi oleh flu burung, antara lain:

  • Selama 7 hari sebelum terkena, telah mengalami salah satu atau lebih dari keadaan berikut ini:
    • Kontak (dalam jarak 1 meter atau kurang) dengan dengan ternak unggas atau burung liar baik hidup atau mati
    • Berada pada tempat dimana ternak unggas pernah atau sedang dikandangkan selama 6 minggu sebelumnya
    • Berhubungan (dalam jarak jangkauan sentuhan atau percakapan) dengan orang yang didiagnosa menderita influenza A (H5N1)
    • Berhubungan (dalam jarak jangkauan sentuhan atau percakapan) dengan orang yang menderita penyakit pernafasan akut yang tidak dapat dijelaskan yang kemudian berakhir pada kematian
  • (atau) Selama 7 hari sebelum terkena, pernah bekerja dalam suatu laboratorium dimana ada pengolahan contoh dari orang atau binatang yang dicurigai menderita penyakit flu burung.

(Patokan di atas hanya berlaku di negara-negara atau daerah-daerah dimana flu burung telah dikenali sebagai penyebab penyakit pada manusia atau populasi hewan). Sejauh ini, tamiflu hanya diberikan pada orang yang mengalami gejala terinfeksi flu burung. Tamiflu belum disarankan sebagai pencegah penyakit sebelum terinfeksi dan tidak ada penelitian yang memperlihatkan bahwa tamiflu memberikan kekebalan terhadap virus H5N1.

6. Apabila saya sudah divaksinasi untuk mencegah influenza, apakah saya tetap akan dapat tertular Flu Burung?

Ya. Vaksin yang ada saat ini belum melindungi diri anda dari penyakit yang disebabkan oleh H5N1. Vaksin yang ada saat ini melindungi anda dari influenza musiman tipe A dan B. Vaksin untuk H5N1 sedang dalam tahap pengembangan di beberapa negara.

7. Apa keuntungan vaksinasi influenza jika tetap bisa terkena Flu Burung?

Tujuan dari vaksinasi adalah untuk mengurangi kesempatan terjadinya infeksi yang bersamaan antara influenza manusia dan flu burung. Infeksi ganda yang bersamaan tersebut akan memberikan kesempatan pada virus manusia dan virus dari flu burung untuk pertukaran gen atau mutasi, yang kemungkinan akan menghasilkan jenis influenza baru yang mana akan mudah menyebar sebagaimana influenza manusia namun akan mematikan sebagaimana flu burung.


amink file...

Sumber penularan

Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia.

Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 9 varian H dan 14 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari.

[sunting] Cara penularan

Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar.

Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga.

Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah.

Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi resiko penularan.

Tidak selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan.

[sunting] Gejala dan perawatan

Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernafasan dan (mungkin) perut. Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis.

Penanganan medis maupun pemberian obat dilakukan oleh petugas medis yang berwenang. Obat-obatan yang biasa diberikan adalah penurun panas dan anti virus. Di antara antivirus yang dapat digunakan adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase (neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir. Masing-masing dari antivirus tersebut memiliki efek samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu sehingga diperlukan opini dokter.

[sunting] Kasus penyebaran

Pada 21 Juli 2005, tiga kasus fatal terjadi di Tangerang, Indonesia, yang disebabkan oleh flu burung subtipe H5N1. Berbeda dengan kasus lainnya di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, dan Vietnam), kasus ini dianggap unik karena korban tidak banyak berhubungan dengan unggas.

Hingga 6 Juni 2007, WHO telah mencatat sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia yang disebabkan virus ini dengan rincian sebagai berikut (lihat sumber):

  • Indonesia — 99 kasus dengan 79 kematian.
  • Vietnam — 93 kasus dengan 42 kematian.
  • Mesir — 34 kasus dengan 14 kematian.
  • Thailand — 25 kasus dengan 17 kematian.
  • Republik Rakyat Cina — 25 kasus dengan 16 kematian.
  • Turki — 12 kasus dengan 4 kematian.
  • Azerbaijan — 8 kasus dengan 5 kematian.
  • Kamboja — 7 kasus dengan 7 kematian.
  • Irak — 3 kasus dengan 2 kematian.
  • Laos — 2 kasus dengan 2 kematian.
  • Nigeria — 1 kasus dengan 1 kematian.
  • Djibouti — 1 kasus tanpa kematian.

Keterangan: jumlah kasus yang dilaporkan WHO adalah jumlah kasus yang telah diverifikasi dengan hasil laboratorium.

[sunting] Awal wabah

Awal wabah pada peternakan di dunia yang telah dikonfirmasi sejak Desember 2003.

Wabah flu burung juga melanda benua Afrika. Pada 8 Februari 2006, OIE mengumumkan Nigeria sebagai negara pertama yang memiliki kasus positif flu burung di benua itu. Dua pekan kemudian, virus H5N1 ditemukan di sebuah desa kecil di Niger, sekitar 72 km dari perbatasannya dengan Nigeria. Virus ini juga menyebar ke Mesir dan Kamerun.

Desember 2003 Korea Selatan H5N1
Januari 2004 Vietnam H5N1
Thailand H5N11
Korea Utara H5N1
Jepang H5N1
Laos H5
Kamboja H5N1
Pakistan H7
Taiwan H5N2
Hongkong2 H5N11
Februari 2004 Vietnam H5N1
Indonesia H5N11
Korea Utara H5N11
Jepang H5N11
RRC H5N11
Amerika Serikat H2N2,H5N2,H7N2
Maret 2004 Vietnam H5
Kanada H7N31
April 2004 Thailand H51
Agustus 2004 Malaysia H5N1
Afrika Selatan H5N2
April 2005 Korea Utara H7
Juni 2005 Jepang H5N2
Juli 2005 Filipina H5
Rusia H5N11
Agustus 2005 Kazakhstan H5
Mongolia H5N11
Oktober 2005 Rumania H5
Turki H5N11
Kroasia H5N11
November 2005 Vietnam H5N11

Keterangan 1 - Flu burung patogenik tinggi (Highly Pathogenic Avian Influenza) (HPAI)

(Sumber: http://www.info.gov.hk/info/flu/eng/global.htm)

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar

kkkk

Kapanlagi.com - Komisi Eropa (Commission of the European Community/EC) memberikan hibah senilai 13,5 juta euro atau sekitar Rp132,3 miliar untuk membantu upaya pengendalian penularan penyakit flu burung di Indonesia selama tiga tahun.

Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun mengatakan bantuan itu akan digunakan untuk membiayai proyek penanggulangan flu burung pada manusia.

Proyek yang ditujukan untuk mencegah perluasan penularan flu burung dan meningkatkan kesempatan hidup pasien berpenyakit flu burung itu dilaksanakan berdasarkan perjanjian kerja sama dalam penerapan strategi pengendalian flu burung antara Komisi Eropa dan kantor pusat (WHO) di Jenewa.

Proyek tersebut akan dikelola oleh WHO dengan mitra utama pelaksana proyek Departemen Kesehatan dan Komnas FBPI.

Kandun menjelaskan, sasaran proyek difokuskan pada implementasi tujuh dari 10 strategi nasional penanggulangan flu burung nasional atau semua upaya penanggulangan flu burung yang berada di luar wilayah kerja peternakan.

Strategi penanggulangan yang dimaksudkan dalam hal ini meliputi peningkatan manajemen tata laksana kasus flu burung pada manusia, pelindungan terhadap kelompok berisiko tinggi terjangkit flu burung, surveilans epidemiologis, peningkatan kerja sama masyarakat melalui komunikasi risiko, penyampaian informasi dan peningkatan kesadaran, peningkatan kapasitas, pengembangan riset serta pemantauan dan evaluasi.

Ia menjelaskan pula bahwa pihak-pihak yang terkait akan melakukan pertemuan untuk membahas rincian rencana pelaksanaan dan pemantauan proyek tersebut.

"Kami akan duduk bersama untuk merumuskan, apa saja yang masih kita butuhkan saat ini dan uang ini boleh digunakan untuk apa saja," katanya.

Departemen Kesehatan dan Komnas FBPI, katanya, juga berencana membentuk Dewan Pengarah untuk memantau dan mengawasi kerja proyek yang untuk sementara diberi nama proyek "Implementing the National Strategic Plan for Avian Influenza" atau INSP-AI tersebut.

Berkenaan dengan hal itu Wakil EC Pierre Phillipe menyatakan pihaknya memberikan bantuan itu untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya pengendalian penyakit flu burung yang hingga kini masih menelan korban di Indonesia.

"Kami berharap dukungan EC benar-benar bermanfaat bagi pelaksanaan strategi nasional pengendalian flu burung di Indonesia," katanya.

Di Indonesia sendiri hingga saat ini secara kumulatif sudah terdapat 124 orang yang terserang virus Avian Influenza H5N1 dan 101 diantaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut merupakan yang paling tinggi di dunia, lebih tinggi dibanding jumlah kasus flu burung di Vietnam yang sampai sekarang melaporkan 102 kasus flu burung dengan 48 kasus yang berakibat kematian.

Sementara WHO mencatat hingga saat ini secara kumulatif terdapat 357 kasus flu burung yang dilaporkan dari seluruh dunia dan 223 kasus diantaranya berakibat kematian.

Beberapa kalangan khawatir Indonesia akan menjadi episentrum penyebaran flu burung ke kawasan yang lain.

"Karenanya kita akan melakukan segala cara untuk mengendalikan penyebaran flu burung supaya hal itu tidak terjadi, tentunya dengan bantuan komunitas lain di dunia," demikian I Nyoman Kandun. (*/rsd)

fluuuu buruuung berita w...

1111

Munculnya kasus infeksi flu burung (Avian Influenza/AI) pada manusia di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menambah jumlah kabupaten di Indonesia yang menjadi jangkitan virus H5N1 menjadi 37 kabupaten.

Kasus infeksi flu burung pada manusia di kabupaten tersebut dipastikan muncul setelah seorang pria warga Grobogan berinisial SA (45) dikonfirmasi terinfeksi virus influenza tipe A subtipe H5N1 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan (Balitbangkes) dan Lembaga Biologi Molekular Eijkman, demikian menurut siaran pers Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan, Kamis.

SA meninggal dunia pada 28 Mei 2007 sehingga jumlah kasus infeksi flu burung di Indonesia kini total 98 orang dan 78 diantaranya berakibat kematian sedang angka kematian kasus (Case Fatality Rate/CFR) 79,59 % atau empat dari lima kasus berakibat kematian.

Lebih lanjut disebutkan pula bahwa menurut hasil penyelidikan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, sebelumnya sakit SA melakukan kontak dengan ayam mati serta menyembelih, memasak, dan memakan ayam yang mati dan sakit.

Di Dusun Paito, Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, tempat tinggal SA, juga ditemukan banyak ayam mati.

SA menunjukkan gejala sakit seperti panas (suhu tubuh 39,3 Celcius), batuk, dan sesak nafas sejak tanggal 17 Mei 2007, berobat ke dokter umum pada 19 Mei, dan baru dua hari kemudian berobat ke Puskesmas Gubug.

Dari Puskesmas Gubug, SA dirujuk ke Rumah Sakit Umum Purwodadi, kemudian ke RSP Ario Wirawan Salatiga pada 26 Mei 2007 dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Muwardi Solo, Jawa Tengah. (*/rsd)